Top 5 Brand Convenience Stores Di Indonesia
Convenience store adalah toko swalayan mini yang menjual barang kebutuhan sehari-hari dan berlokasi di sekitar tempat pemukiman penduduk, serta biasanya buka 24 jam. Tapi pengertian convenience store sekarang sudah meluas karena convenience store tidak hanya berlokasi di sekitar pemukiman penduduk tetapi sekarang lebih condong dekat dengan tempat tongkrongan para muda/mudi. Karena pangsa pasar yang dituju adalah kaum muda mudi yang memang senang nongkrong atau sekedar cari tempat yang enak untuk menghindari kemacetan yang parah misalnya atau juga untuk sekedar mengobrol unuk melepaskan penat. Fasilitas dan juga barang-barang yang ada di convenience store yang memang cocok sekali untuk kaum muda/mudi. Bahkan penambahan fasilitas seperti wifi, tempat ngobrol, tempat parkir yang cukup luas sehingga memungkinkan para pengunjung yang membawa kendaraan bisa memarkirkan kendaraannya dengan aman. Harga barang-barang yang ditawarkan pun cukup mahal dibandingkan dengan ditempat-tempat yang lainnya karena tidak ingin mematikan pasar tradisional yang sekarang keberadaannya sudah mulai menghilang dikalangan kaum urban di Indonesia dan juga itu merupakan timbal balik karena fasilitas dihadirkan di convenience store juga cukup beragam.
Top 5 Brand Convenience Stores di Indonesia :
1. Circle K
2. Seven Eleven
3. Lawson
4. Indomaret Point
5. Family Mart
Dari Top 5 Brend Convenience Store diatas, masing - masing saya pernah mengunjungi store - store tersebut. Dari keluar-masuk beberapa convenience store, saya mengamati ciri khas kelebihan dan kekurangan masing-masing convenience store diatas.
CHECK IT OUT.....
Circle K
Circle K adalah salah-satu convenience store pertama yang berdiri, sejak 1951. Saya tidak tahu kapan tepatnya Circle K masuk Indonesia, namun kita sepakat ini adalah convenience store pertama di Indonesia, dan menurut saya ini adalah satu-satunya kelebihan Circle K. dan sepertinya sedikit lebih murah dari convenience store lainnya. Selain tempatnya yang (kebanyakan) kecil, juga tidak nyaman untuk digunakan berlama-lama nongkrong. Biasanya mereka hanya menyediakan beberapa meja dan kursi di luar, dan tidak jarang juga beberapa store mereka tidak menyediakan meja dan kursi, sehingga biasanya para pengunjung ngemper di teras mereka. Ini juga yang biasanya membuat para pengunjung lain risih untuk masuk ke Circle K, apa lagi yang biasanya ngemper tersebut sambil minum bir, Serem deh imagenya.
Seven Eleven
Seven Eleven atau orang biasa menyebut Convennience Store ini dengan sebutan Sevel, Sevel adalah convenience store yang mempopulerkan budaya nongrong di convenience store. Mereka menyediakan tempat yang luas lengkap dengan meja-kursi, AC, bahkan hotspot wifi. Tidak sekedar menjual aneka snack, namun juga makanan cepat saji. Strategi ini sukses membuat Sevel menjadi tempat paling pas buat ngumpulnya ABG, tempat buat ngerjain tugas sekolah, hingga tempat buat menunggu kemacetan yang murah meriah. Bayangkan, anda hanya perlu membeli sekotak minuman dingin seharga 2,500 dan anda bisa ngadem di ruangan berAC sambil ngecharge HP plus browsing internet. Konsep ini sukses menjadikan Sevel convenience store paling sukses dan happening di Jakarta dan langsung segera ditiru kompetitor lain.
Menurut saya, Sevel adalah convenience store terbesar dan terlengkap di Jakarta. Anda cari makanan apa saja, mereka pasti punya.
Namun ada beberapa kelemahan dari Sevel dibanding kompetitor lain, bahkan jika berlangsung berlarut-larut akan menjadi kemunduran bagi Sevel.
Kelemahan pertama, Sevel memiliki menuman favorit, yaitu Slurpee, dan di sini sumber masalahnya. Anda tahu kenapa terkadang lantai Sevel sering muncul noda hitam pada lantai dan membuat alas kaki lengket ? Penyebabnya adalah minuman ini. Slurpee minuman manis, bahkan terlalu berlimpah gula (dan mungkin itu rahasianya minuman ini begitu digemari), sehingga saat minuman ini tumpah (yang saya gak tahu bagaimana caranya, namun selalu saja ada yang menumpahkan soft drink ke lantai), akan membuat noda-noda hitam di atas lantai saat orang-orang berlalu-lalang. Gula membuat kotoran disepatu menempel dan berbekas di lantai. Noda ini sangat susah dihilangkan, selain harus dipel dengan sabun.
Masalah berikutnya adalah self service. Sevel datang dengan self-service convenience store, di mana pelanggan mengambil sendiri hidangan mereka, menaruh sendiri toping mereka, membayar lalu menyantapnya. Dan setelah selesai seru-seruan di Sevel, mereka pulang.
Masalah lainnya adalah," sampahnya tolong masing-masing buang pada tempatnya". Itu yang berlaku di luar negeri dan itu yang diharapkan oleh management Sevel seperti itu adalah idealnya. Dengan cara demikian Sevel dapat menghemat cost membayar cleaning service. Sayang konsep ideal ini tidak berjalan mulus di sini. Bagi orang Indonesia, membereskan meja di tempat makan dan membuat sampahnya adalah tugas pelayan. "Buat apa membayar makanan jika kami juga yang mencuci piring!". Dan inilah faktor yang membuat outlet Sevel sering terlihat kotor ketimbang sebaliknya. Dengan store yang rata-rata besar, hampir mustahil Sevel terlihat bersih dari waktu ke waktu. Dan seiring waktu pengunjung malas untuk datang ke Sevel. Karena sering kali mereka datang untuk membersihkan sampah pengunjung sebelumnya. Wong sampah mereka saja belum tentu mereka perduli, apa lagi sampah orang lain kan.
LAWSON
Convenience Store asal Jepang ini di bawa masuk oleh Alfamart Group lewat Sister company mereka, PT Midi Utama Indonesia, Lawson sendiri adalah convenience store yang nyaman. Tidak terlalu besar dan menempatkan hanya produk-produk favorit, dan diferensiasi poin mereka dengan convenience store kompetitor adalah menjual snack khas Jepang. Seperti Onigir, Oden dan Bento.
Tuntutan untuk menyajikan hidangan khas ini membuat Lawson mau tidak mau lebih banyak menyajikan produk impor dari Negara asalnya dibanding convenience store yang lain. Untuk saya yang lebih memprioritaskan produk lokal, ini menjadi kelemahan bagi Lawson. Diferesiansi poin mereka menjadi kelemahan mereka di mata saya.
Indomaret Point
Mungkin belum banyak yang tahu, karena memang store nya masih sedikit. Berangkat dari niatan Indomaret untuk masuk dalam persaingan convenience store yang sudah ada, membuat gerai Indomaret, namun bukan mini market, munculah Indomaret Point. Munculnya Indomaret Point paling akhir dari para kompetitor, bukan tanpa modal. Saya yakin Indomart melihat kelemahan-kelemahan convenience store yang saya sebutkan di atas dan membuat perbaikan-perbaikan dari convenience store yang sudah ada.
Pertama, outlet mereka selalu bersih dan rapih. Indomaret melihat Sevel, saya yakin mereka belajar dari perilaku pelanggan di sana. Dari pada ngotot mengubah perilaku pelanggan, Indomaret lebih memilih menyediakan cleaning service outsourcing seperti CSS untuk merapikan store mereka, termasuk membuang sampah para pelanggan. Setiap pelanggan yang beranjak dari meja mereka, akan selalu ada petugas cleaning service yang membersihkan dan merapikan meja. Ini yang membuat store mereka selalu terlihat bersih dan rapih dari waktu ke waktu.
Tidak hanya sampai di sana, Indomaret tahu prioritas prilaku para pelanggan convenience store. Buat para pelanggan convenience store, prioritas mereka adalah tempat yang nyaman, baru produk yang dijual. Mereka bisa tolerir makanan favorit mereka tidak dijual dibanding tempat yang tidak nyaman, untuk itu Indomaret Point menyediakan bukan cuma satu, tapi dua stopkontak di masing-masing meja. Bayangkan hal yang selalu menjadi prahara di Sevel. Tidak sampai di sana, mereka menyediakan TV kabel dan hotspot wifi yang setidaknya lebih baik sedikit koneksinya dibanding koneksi wifi di convenience store lain.
Makanan yang dijual tentu tidak selengkap Sevel dan tidak seunik Lawson, namun sangat nusantara. Anda bisa temukan baso malang, atau nasi kuning, selain jajanan burger dan hotdog di store mereka. Dan kebanyakan makanan hasil olahan mereka bersumber dari petani dan UMKM lokal, juga barang-bara dari mini market mereka. Indomaret Point menjadikan kampanye Cinta Produk Indonesia menjadi langkah kongkrit.
Family Mart
Yang terakhir Convenience Store yang baru, namanya Family Mart, sebenarnya ini sudah cukup lama sih, namun baru belakangan ini gandrung nongkrong di sini. Yah, karena masih baru, jadi tempatnya kebanyakan masih bersih, layanannya juga masih bagus dan masih perang harga, jadi murah.
Menu andalan di Family Mart adalah Yakitori, atau kalau kita sih nyebutnya sate. Sate ini ada yang dari sosis, daging ayam+daun bawang, hingga kulit dan baso. Ini jadi menu andalan pelanggan setia Family Mart, biasanya dimakan bersama nasi.
Dari sepengetahuan saya dan yang pernah saya kunjungi, Family Mart ada di kawasan Pamulang ( Samping UNPAM ).
Nah itulah pengalaman saya dari Top Brand Convenience Store yang pernah saya kunjungi...
Sumber :
katumbiri-19.blogspot.com/2011/12/convenience-store.html








