Blogger Widgets

Selasa, 02 Desember 2014

TUGAS PENGANTAR BISNIS 3

MENGHADAPI PERSAINGAN PRODUK ASLI INDONESIA    DENGAN PRODUK LUAR NEGERI


sebagai negara transisi negara kita sesungguhnya tengah ada dalam permasalahan yang cukup sulit. Dimana sebagai Negara besar dengan jumlah penduduk yang banyak, kita justru kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan sumber daya manusia yang ada.Bagaimana tidak, ditengah persaingan ekonomi yang begitu pesat saat ini kita justru kehilangan ‘partner-partner’ yang sangat signifikan. Yah, pasar indsutri kita kehilangan konsumen dari dari dalam negeri sendiri. Maraknya trend zaman sekarang yang begitu memuja produk impor menjadi salah satu penyebab lunturnya rasa nasionalisme anak bangsa.Belum lagi faktor intern yang ada membuat masalah ini makin bertambah runyam. Harus diakui bahwa produk luar negeri dari segi mutu dan kualitas memang lebih maju dibandingkan dengan produk dalam negeri, Ditambah lagi Citra produk dalam negeri yang buruk dengan harga yang mahal tapi tak berkualitas, hal ini lah yang menyebabkan produk asli ‘made in Indonesia’ krisis peminat. Padahal, dilihat dari segi sumber daya alam yang Indonesia miliki, sesungguhnya kita bisa membuat produk yang jauh lebih baik dari segi mutu dan kualitas.
Belum lagi dengan ditambah sentuhan keragaman budaya Indonesia sehingga bisa saja menghasilkan produk baru dengan etnik yang unik.
Disinilah sebenarnya permasalahan yang lebih krusial.
Produsen Indonesia kurang peka dengan begitu banyak potensi yang Negara ini miliki.
Kalau saja mereka lebih membuka mata dengan begitu melimpahnya sumber daya yang ada tentu permasalahannya tidaklah serumit ini.
Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 6/2009 tentang pengembangan ekonomi kreatif.
Konsep ekonomi kreatif merupakans ebuah konsep baru yang menyinergikan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan pada iptek dan sumber daya manusia sebagai faktor utama dalam kegiatan ekonomi. Dengan mengandalkan konsep ini, kita telah mempunyai ‘senjata’ untuk menghadapi ‘propaganda’ merebaknya produk luar negeri.
Yah, keanekaragaman budaya yang Negara kita miliki adalah modal utama bagi kita untuk mengembangkan  produk-produk dengan mutu dan kualitas yang jauh lebih baik. Dengan mengamalkan konsep ekonomi diatas, kita akan memperoleh banyak keuntungan.
Salah satunya adalah menciptakan produk-produk yang berkualitas dengan bercirikan kultur Indonesia. Sehingga, dengan adanya produk yang seperti ini kita akan tetap mampu bersaing dengan produk luar negeri tanpa menghilangkan kesempatan untuk tetap mempromosikan ke-khasan budaya kita.
Tentu saja kita tak hanya dapat menarik peminat dari dalam negeri, kita juga dapat menarik peminat dari luar negeri yang notabene lebih menyiukai produk yang unik dan bernilai seni.
Contohnya : saat ini masyarakat Indonesia begitu meminati pakaian dari luar negeri yang selalu up to date dan berkualitas bagus.
Padahal, kita juga bisa menciptakan pakaian yang jauh lebih menarik dengan adanya sentuhan etnik budaya tentu dengan kualitas yang baik pula. Batik misalnya, Kita hanya perlu sedikit memoles rancangannya dan memperbaiki kualitas bahan dan teknik pembuatannya.
Maka akan tercipta baju yang unik dengan kualitas yang tak kalah baiknya dari produk luar negeri.
tak hanya ‘harga’ yang bagus, tapi kualitas juga dapat dipertanggungjawabkan. Pengembangan konsep ekonomi kreatif dapat dijadikan sebagai  sarana yang tepat untuk menghadapi serangan virus brand internasional yang menyerbu pasar Indonesia.
Ekonomi kreatif diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk-produk buatan dalam negeri dan menarik peminat dari luar negeri sehingga selain dapat memajukan kondisi perekonomian kita juga dapat semakin menguatkan identitas Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan budaya. Jangan sampai masyarakat kita terus-menerus bangga akan produk internasional padahal Negara kita sendiri punya banyak hal yang bisa dibanggakan. Apalagi kalau sampai harus meniru produk luar negeri. itu hanya akan menghilangkan karekter bangsa kita dan hanya akan menjadikan citra Indonesia buruk dimata dunia dengan embel-embel PLAGIAT yang disandangnya akan semakin membuat Negara ini sulit berkembang. Dimulai dari hal yang  kecil, diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat yang terlalu pro dengan produk luar negeri. Diawali dengan menumbuhkan rasa nasionalisme dari hal yang kecil, maka kedepannya kita akan tumbuh menjadi Negara yang berkarakter. Melalui sosialisasi, dengan memuat slogan-slogan cinta Indonesia dan memperbaiki kualitas produk dalam negeri akan berdampak signifikan bagi kelangsungan bangsa ini kedepannya.
Namun, yang paling pentin adalah implementasi dari konsep Ekonomi Kreatif tersebut. Tidak hanya teori saja yang digaung-gaungkan.
Mulai saat ini, mulailah untuk bangga dengan produk dalam negeri.
Tumbuhkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap produk lokal.
Karena kita punya produk yang berkualitas dan mampu bersaing di kancah dunia. Buktikan bahwa Indonesia mampu bersaing dan punya peran yang signifikan dalam monopoli perekonomian dunia.
Kita dukung program pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang jaub lebih baik. Dengan mengembangkan Ekonomi kreatif akan memberikan kontribusi yang besar dalam perekonomian Indonesia.
Menambah devisa Negara, menciptakan lapangan kerja dan sebagai sarana untuk mengeksplor kreativitas anak-anak bangsa sehingga pada akhirnya akan membangun image Indonesia sebagai bangsa yang kreatif. Dalam hal ini, dibutuhkan kerjasama seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan semboyan ‘CINTA INDONESIA’.
Tak hanya dari segi produk tapi di berbagai sektor demi mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan memperkuat identitas bangsa di mata  internasional. Dengan prinsip Ekonomi kreatif, perkembangan ekonomi akan semakin stabil sehingga mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat.
Tak hanya itu, apabila kondisi perekonomian sudah stabil maka akan semakin muda bagi Indonesia untuk memajukan sektor-sektor lainnya sehingga akan makin kuat pula jati diri bangsa di mata dunia.
Tak ada yang tak mungkin, asal ada kemauan dan usaha yang keras dari rakyat Indonesia.
Dan segala sesuatu harus dimulai dari hal yang paling kecil.
Read more ...

Senin, 27 Oktober 2014

TUGAS PENGANTAR BISNIS 2

Top 5 Brand Convenience Stores Di Indonesia

Convenience store adalah toko swalayan mini yang menjual barang kebutuhan sehari-hari dan berlokasi di sekitar tempat pemukiman penduduk, serta biasanya buka 24 jam. Tapi pengertian convenience store sekarang sudah meluas karena convenience store tidak hanya berlokasi di sekitar pemukiman penduduk tetapi sekarang lebih condong dekat dengan tempat tongkrongan para muda/mudi. Karena pangsa pasar yang dituju adalah kaum muda mudi yang memang senang nongkrong atau sekedar cari tempat yang enak untuk menghindari kemacetan yang parah misalnya atau juga untuk sekedar mengobrol unuk melepaskan penat. Fasilitas dan juga barang-barang yang ada di convenience store yang memang cocok sekali untuk kaum muda/mudi. Bahkan penambahan fasilitas seperti wifi, tempat ngobrol, tempat parkir yang cukup luas sehingga memungkinkan para pengunjung yang membawa kendaraan bisa memarkirkan kendaraannya dengan aman. Harga barang-barang yang ditawarkan pun cukup mahal dibandingkan dengan ditempat-tempat yang lainnya karena tidak ingin mematikan pasar tradisional yang sekarang keberadaannya sudah mulai menghilang dikalangan kaum urban di Indonesia dan juga itu merupakan timbal balik karena fasilitas dihadirkan di convenience store juga cukup beragam.

Top 5 Brand Convenience Stores di Indonesia :
1. Circle K
2. Seven Eleven
3. Lawson
4. Indomaret Point
5. Family Mart

Dari Top 5 Brend Convenience Store diatas, masing - masing saya pernah mengunjungi store - store tersebut. Dari keluar-masuk beberapa convenience store, saya mengamati ciri khas kelebihan dan kekurangan masing-masing convenience store diatas.

CHECK IT OUT.....


Circle K



Circle K adalah salah-satu convenience store pertama yang berdiri, sejak 1951. Saya tidak tahu kapan tepatnya Circle K masuk Indonesia, namun kita sepakat ini adalah convenience store pertama di Indonesia, dan menurut saya ini adalah satu-satunya kelebihan Circle K. dan sepertinya sedikit lebih murah dari convenience store lainnya. Selain tempatnya yang (kebanyakan) kecil, juga tidak nyaman untuk digunakan berlama-lama nongkrong. Biasanya mereka hanya menyediakan beberapa meja dan kursi di luar, dan tidak jarang juga beberapa store mereka tidak menyediakan meja dan kursi, sehingga biasanya para pengunjung ngemper di teras mereka. Ini juga yang biasanya membuat para pengunjung lain risih untuk masuk ke Circle K, apa lagi yang biasanya ngemper tersebut sambil minum bir, Serem deh imagenya.


Seven Eleven



Seven Eleven atau orang biasa menyebut Convennience Store ini dengan sebutan Sevel, Sevel adalah convenience store yang mempopulerkan budaya nongrong di convenience store. Mereka menyediakan tempat yang luas lengkap dengan meja-kursi, AC, bahkan hotspot wifi. Tidak sekedar menjual aneka snack, namun juga makanan cepat saji. Strategi ini sukses membuat Sevel menjadi tempat paling pas buat ngumpulnya ABG, tempat buat ngerjain tugas sekolah, hingga tempat buat menunggu kemacetan yang murah meriah. Bayangkan, anda hanya perlu membeli sekotak minuman dingin seharga 2,500 dan anda bisa ngadem di ruangan berAC sambil ngecharge HP plus browsing internet. Konsep ini sukses menjadikan Sevel convenience store paling sukses dan happening di Jakarta dan langsung segera ditiru kompetitor lain.

Menurut saya, Sevel adalah convenience store terbesar dan terlengkap di Jakarta. Anda cari makanan apa saja, mereka pasti punya.

Namun ada beberapa kelemahan dari Sevel dibanding kompetitor lain, bahkan jika berlangsung berlarut-larut akan menjadi kemunduran bagi Sevel.

Kelemahan pertama, Sevel memiliki menuman favorit, yaitu Slurpee, dan di sini sumber masalahnya. Anda tahu kenapa terkadang lantai Sevel sering muncul noda hitam pada lantai dan membuat alas kaki lengket ? Penyebabnya adalah minuman ini. Slurpee minuman manis, bahkan terlalu berlimpah gula (dan mungkin itu rahasianya minuman ini begitu digemari), sehingga saat minuman ini tumpah (yang saya gak tahu bagaimana caranya, namun selalu saja ada yang menumpahkan soft drink ke lantai), akan membuat noda-noda hitam di atas lantai saat orang-orang berlalu-lalang. Gula membuat kotoran disepatu menempel dan berbekas di lantai. Noda ini sangat susah dihilangkan, selain harus dipel dengan sabun.

Masalah berikutnya adalah self service. Sevel datang dengan self-service convenience store, di mana pelanggan mengambil sendiri hidangan mereka, menaruh sendiri toping mereka, membayar lalu menyantapnya. Dan setelah selesai seru-seruan di Sevel, mereka pulang.

Masalah lainnya adalah," sampahnya tolong masing-masing buang pada tempatnya". Itu yang berlaku di luar negeri dan itu yang diharapkan oleh management Sevel seperti itu adalah idealnya. Dengan cara demikian Sevel dapat menghemat cost membayar cleaning service. Sayang konsep ideal ini tidak berjalan mulus di sini. Bagi orang Indonesia, membereskan meja di tempat makan dan membuat sampahnya adalah tugas pelayan. "Buat apa membayar makanan jika kami juga yang mencuci piring!". Dan inilah faktor yang membuat outlet Sevel sering terlihat kotor ketimbang sebaliknya. Dengan store yang rata-rata besar, hampir mustahil Sevel terlihat bersih dari waktu ke waktu. Dan seiring waktu pengunjung malas untuk datang ke Sevel. Karena sering kali mereka datang untuk membersihkan sampah pengunjung sebelumnya. Wong sampah mereka saja belum tentu mereka perduli, apa lagi sampah orang lain kan.


LAWSON



Convenience Store asal Jepang ini di bawa masuk oleh Alfamart Group lewat Sister company mereka, PT Midi Utama Indonesia, Lawson sendiri adalah convenience store yang nyaman. Tidak terlalu besar dan menempatkan hanya produk-produk favorit, dan diferensiasi poin mereka dengan convenience store kompetitor adalah menjual snack khas Jepang. Seperti Onigir, Oden dan Bento.

Tuntutan untuk menyajikan hidangan khas ini membuat Lawson mau tidak mau lebih banyak menyajikan produk impor dari Negara asalnya dibanding convenience store yang lain. Untuk saya yang lebih memprioritaskan produk lokal, ini menjadi kelemahan bagi Lawson. Diferesiansi poin mereka menjadi kelemahan mereka di mata saya.


Indomaret Point



Mungkin belum banyak yang tahu, karena memang store nya masih sedikit. Berangkat dari niatan Indomaret untuk masuk dalam persaingan convenience store yang sudah ada, membuat gerai Indomaret, namun bukan mini market, munculah Indomaret Point. Munculnya Indomaret Point paling akhir dari para kompetitor, bukan tanpa modal. Saya yakin Indomart melihat kelemahan-kelemahan convenience store yang saya sebutkan di atas dan membuat perbaikan-perbaikan dari convenience store yang sudah ada.

Pertama, outlet mereka selalu bersih dan rapih. Indomaret melihat Sevel, saya yakin mereka belajar dari perilaku pelanggan di sana. Dari pada ngotot mengubah perilaku pelanggan, Indomaret lebih memilih menyediakan cleaning service outsourcing seperti CSS untuk merapikan store mereka, termasuk membuang sampah para pelanggan. Setiap pelanggan yang beranjak dari meja mereka, akan selalu ada petugas cleaning service yang membersihkan dan merapikan meja. Ini yang membuat store mereka selalu terlihat bersih dan rapih dari waktu ke waktu.

Tidak hanya sampai di sana, Indomaret tahu prioritas prilaku para pelanggan convenience store. Buat para pelanggan convenience store, prioritas mereka adalah tempat yang nyaman, baru produk yang dijual. Mereka bisa tolerir makanan favorit mereka tidak dijual dibanding tempat yang tidak nyaman, untuk itu Indomaret Point menyediakan bukan cuma satu, tapi dua stopkontak di masing-masing meja. Bayangkan hal yang selalu menjadi prahara di Sevel. Tidak sampai di sana, mereka menyediakan TV kabel dan hotspot wifi yang setidaknya lebih baik sedikit koneksinya dibanding koneksi wifi di convenience store lain.

Makanan yang dijual tentu tidak selengkap Sevel dan tidak seunik Lawson, namun sangat nusantara. Anda bisa temukan baso malang, atau nasi kuning, selain jajanan burger dan hotdog di store mereka. Dan kebanyakan makanan hasil olahan mereka bersumber dari petani dan UMKM lokal, juga barang-bara dari mini market mereka. Indomaret Point menjadikan kampanye Cinta Produk Indonesia menjadi langkah kongkrit.


Family Mart



Yang terakhir Convenience Store yang baru, namanya Family Mart, sebenarnya ini sudah cukup lama sih, namun baru belakangan ini gandrung nongkrong di sini. Yah, karena masih baru, jadi tempatnya kebanyakan masih bersih, layanannya juga masih bagus dan masih perang harga, jadi murah.

Menu andalan di Family Mart adalah Yakitori, atau kalau kita sih nyebutnya sate. Sate ini ada yang dari sosis, daging ayam+daun bawang, hingga kulit dan baso. Ini jadi menu andalan pelanggan setia Family Mart, biasanya dimakan bersama nasi.

Dari sepengetahuan saya dan yang pernah saya kunjungi, Family Mart ada di kawasan Pamulang ( Samping UNPAM ).

Nah itulah pengalaman saya dari Top Brand Convenience Store yang pernah saya kunjungi...




Sumber :
katumbiri-19.blogspot.com/2011/12/convenience-store.html

Read more ...

Minggu, 26 Oktober 2014

TUGAS PENGANTAR BISNIS 1



 Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) | Vol. 8 No. 1 Februari 2014
Hal : 1-8

PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
TERHADAP CITRA
(Survei pada Warga Sekitar PT. Sasa Inti Gending-Probolinggo)
Penulis :
Bahrul Ulum
Zainul Arifin
Dahlan Fanani

Kesimpulan :

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Citra Perusahaan di warga sekitar perusahaan PT. Sasa Inti Gending-Probolinggo yang diukur dari variabel-variabel Corporate Social Responsibility yaitu dari Dukungan terhadap Masyarakat, Lingkungan dan Produk. Diharapkan informasi yang diperoleh dari penelitian ini dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan dan kualitas Corporate Social Responsibility sehingga lebih dapat meningkatkan lagi Citra Perusahaan dimasa yang akan datang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian penjelasan (explanatory research) dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Kesimpulan dari penelitian ini bahwasanya ketiga variabel yang dikaji berpengaruh signifikan terhadap citra perusahan. Adapun rincian nilai ketiga variabel tersebut sebagai berikut: Dukungan terhadap Masyarakat sebesar 2,577, Lingkungan sebesar 2,396, Produk sebesar 3,274. Kemudian variabel yang dominan yaitu Produk dengan nilai 3,274.

Analisis :

Perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosialnya secara konsisten akan mendapatkan dukungan yang luas dari komunitas yang merasakan manfaat dari berbagai aktivitas yang dijalankannya.
Corporate Social Responsibility secara simultan memberikan kontribusi terhadap Citra yang baik, dengan demikian dapat diketahui bahwa warga sekitar perusahaan memperhatikan variabel-variabel Corporate Social Responsibility secara simultan atau simultan dalam memberikan Citra yang baik terhadap PT. Sasa Inti Gending Probolinggo.
Corporate Social Responsibility akan meningkatkan citra perusahaan dan dalam waktu yang panjang akan terakumulasi menjadi reputasi perusahaan.


Sumber :
PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY ( Survei pada Warga Sekitar PT. Sasa Inti Gending-Probolinggo ).
Oleh Bahrul Ulum, Zainul Arifin, Dahlan Fanani. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Vol. 8 No. 1 Februari 2014.

Read more ...

Jumat, 03 Oktober 2014

Biografi Steve Jobs

steve jobs

Steven Paul "Steve" Jobs (lahir di San Francisco, California, Amerika Serikat, 24 Februari 1955 – meninggal di Palo Alto, California, Amerika Serikat, 5 Oktober 2011 pada umur 56 tahun) adalah seorang tokoh bisnis dan penemu Amerika Serikat. Ia adalah pendiri pendamping,[11] ketua, dan mantan CEO Apple Inc.[12][13] Jobs juga sebelumnya menjabat sebagai pejabat eksekutif Pixar Animation Studios; ia menjadi anggota dewan direktur The Walt Disney Company pada tahun 2006, setelah pengambilan alih Pixar oleh Disney. Namanya dicantumkan sebagai produser eksekutif dalam film Toy Story tahun 1995.[14]
Pada akhir 1970-an, Jobs, bersama pendiri pendamping Apple Steve Wozniak, Mike Markkula,[11] dan lainnya, merancang, mengembangkan, dan memasarkan salah satu jajaran komputer pribadi pertama yang sukses secara komersial, yaitu seri Apple II. Pada awal 1980-an, Jobs termasuk orang-orang yang pertama kali melihat potensi komersial dari antarmuka pengguna grafis yang digerakkan tetikus PARC Xerox yang kemudian mendorong pembuatan Macintosh.[15][16] Setelah kalah melawan keputusan dewan direktur tahun 1984,[17][18] Jobs mengundurkan diri dari Apple dan mendirikan NeXT, sebuah perusahaan pengembangan platform komputer yang berkecimpung dalam pasar pendidikan tinggi dan bisnis. Pembelian NeXT oleh Apple pada tahun 1996 membawa kembali Jobs ke perusahaan yang ia dirikan bersama, dan ia menjabat sebagai CEO-nya sejak 1997 hingga 2011.
Tahun 1986, ia mengambil alih divisi grafis komputer Lucasfilm Ltd yang kemudian menjadi Pixar Animation Studios.[19] Ia menjadi CEO dan pemegang saham terbesarnya sebanyak 50,1% sampai diambil alih oleh The Walt Disney Company tahun 2006.[3] Karena itu pula Jobs menjadi pemegang saham perorangan terbesar di Disney sebanyak 7% dan anggota Dewan Direktur Disney.[20][21][22][23] Setelah mengundurkan diri sebagai CEO pada 24 Agustus 2011, Jobs terpilih sebagai ketua dewan direktur Apple.
Pada 5 Oktober 2011, Steve Jobs meninggal dunia di California pada usia 56 tahun, tujuh tahun setelah didiagnosis menderita kanker pankreas.[24][25] Pada waktu kematiannya, ia dikenal luas sebagai seorang visioner, perintis dan jenius dalam bidang bisnis, inovasi, dan desain produk, dan orang yang berhasil mengubah wajah dunia modern, merevolusi enam industri yang berbeda, dan "contoh bagi semua kepala eksekutif". Kematiannya ditanggapi secara luas dan dianggap sebagai kehilangan besar bagi dunia oleh para penggemarnya di seluruh dunia.
Jobs lahir di San Francisco, California[2] dan diadopsi oleh Paul dan Clara Jobs (née Hagopian)[26] dari Mountain View, California, yang menamainya Steven Paul. Paul dan Clara kemudian mengadopsi anak perempuan yang diberi nama Patti. Orang tua biologis Jobs – Abdulfattah Jandali, seorang sarjana berkebangsaan Suriah[27] yang kemudian menjadi profesor ilmu politik,[28] dan Joanne Simpson (née Schieble), seorang sarjana berkebangsaan Amerika Serikat[27] yang kemudian menjadi patolog bahasa wicara[29] – yang kemudian menikah, melahirkan dan membesarkan adik biologis Jobs, yaitu novelis Mona Simpson.[30][31][32][33][34][35]
Jobs bersekolah di Cupertino Junior High School dan Homestead High School di Cupertino, California,[36] dan sering menghadiri kuliah setelah sekolah di Hewlett-Packard Company di Palo Alto, California. Ia kemudian dipekerjakan di sana dan bekerja bersama Steve Wozniak sebagai karyawan musim panas.[37] Tahun 1972, Jobs lulus dari sekolah menengah atas dan mendaftar masuk Reed College di Portland, Oregon. Meski ia keluar setelah satu semester,[38] ia melanjutkan audit kelasnya di Reed, seperti kelas kaligrafi, dengan tidur di lantai kamar temannya, mengembalikan botol-botol Coke demi mendapatkan uang, dan mendapatkan makanan gratis mingguan di wihara Hare Krishna setempat.[18] Jobs kemudian berkata, "Jika aku tidak menghadiri kuliah tunggal di perguruan tinggi itu, maka Mac tidak akan memiliki beragam huruf cetak ataupun huruf dengan spasi sejajar."[18]
Pada musim gugur 1974, Jobs kembali ke California dan mulai menghadiri petemuan Homebrew Computer Club bersama Wozniak. Ia mengambil pekerjaan sebagai teknisi di Atari, sebuah perusahaan pembuat berbagai permainan video populer, dengan tujuan utama menabung uang untuk melakukan perjalanan spiritual ke India.
Jobs kemudian berangkat ke India untuk mengunjungi Neem Karoli Baba[39] di Kainchi Ashram-nya bersama seorang teman dari Reed College (yang kelak menjadi karyawan Apple pertama), Daniel Kottke, untuk mencari pencerahan spiritual. Ia pulang dalam keadaan menganut agama Buddha dengan kepala tercukur dan mengenakan pakaian tradisional India.[40][41] Pada waktu itu, Jobs sedang bereksperimen dengan obat psikedelik dan menyebut pengalaman LSD-nya sebagai "satu dari dua atau tiga hal terpenting yang [pernah] dilakukan dalam kehidupan [dirinya]".[42] Ia mengatakan bahwa orang-orang di sekitarnya yang tidak termasuk dalam silsilah lintas budayanya tidak dapat memahami sepenuhnya setiap pemikirannya.[42]
Jobs kembali ke pekerjaan sebelumnya di Atari dan diberikan tugas menciptakan papan sirkuit untuk permainan Breakout. Menurut pendiri Atari Nolan Bushnell, Atari menawarkan $100 untuk setiap chip yang dihapuskan di mesin ini. Jobs punya sedikit ketertarikan atau pengetahuan dalam desain papan sirkuit dan membuat persetujuan dengan Wozniak untuk membagi bonusnya sama rata jika Wozniak mampu meminimalkan jumlah chip. Atari sangat terkejut karena Wozniak mengurangi jumlah chip sebanyak 50 buah, sebuah desain yang sangat ketat sampai-sampai mustahil untuk menciptakannya kembali di jalur perakitan. Pada waktu itu, Jobs memberitahu Wozniak bahwa Atari hanya memberi mereka $700 (bukannya $5000) dan Wozniak pun mendapat bagian $350.
Read more ...